Senin, 01 September 2014

GEREJA SEBAGAI PERSEKUTUAN TERBUKA DALAM PERAN KITAB SUCI



GEREJA   SEBAGAI   PERSEKUTUAN   TERBUKA    DALAM   PERAN   KITAB   SUCI
 









Disusun     :  Marqwano Rizal Xaverius Turnip
Kelas       :  XI Mia 2
Pelajaran  :  Agama

Keterlibatan diri sebagai umat Katolik yang menghayati gereja
sebagai persekutuan terbuka dalam hidup bermasyarakat
                Menjadi umat Katolik berarti umat yang tunduk dan takhluk tanpa isyarat kepada kepada PAUS/Pope/Vicar of Christ/Pontifex Maximus/Raja segala Raja. Sebagai Umat yang Percaya Kepada ajaran Tuhan saya turut ikut membagi pengetahuan, kepercayaan, keterlibatan diri saya sebagai Umat Katolik yang Menghayati Gereja sebagai persekutuan Terbuka.
                Dimulai dari Umat, Sebagai Umat  umat di tuntut agar percaya kepada Tuhan Melalui ajaran kekristenan Katolik. Umat di ibaratkan sebagai Domba dan Pengembalanya adalah Tuhan sendiri . Yang menjaga kita memberi kita pengetahuan dan ajaran ajaran mengenai kebenaran dunia. Umat tidak hanya di tuntut untuk monoton terhadap Tuhan, karena tidak mungkin kita hanya begini saja sampai selama lamanya.  Kita tahu Revolusi, cara berfikir maupun cara bertindak .sekarang kita sedang mengalami masa yang sangat sulit. Dimana LOGIKA mengajarkan kita sedikit melenceng dengan ajaran Agama, tetapi disetiap keyakinan dalam melakukan hal hal LOGIKA kita patut mencampur adukan sedikit pemikiran Agama kedalam LOGIKA . Umat telah aktif di bidang LOGIKA, tetapi Ajaran Agama yang menentang itu  mereka tinggalkan. Seperti artis, kita hanya melihat penampilannya dari luar saja kita tidak melihat sisi lainnya. Dalam  ajaran ini,  saya selalu berfikir dengan menggunakan LOGIKA semakin jauh pemikiran saya mengenai suatu LOGIKA  semakin jauh pula ajaran agama itu dari saya.
                Gereja, Sebagai tempat pergumulan, pengaduan diri kepada Tuhan dan sebagai persekutuan umat terbuka. Gereja adalah persekutuan orang beriman yang hidup di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat secara universal. Gereja tidak hidup di dalam dunia yang menjadi miliknya sendiri, melainkan dalam dunia milik bersama.  Dimana, Gerja adalah tempat yang tepat untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dalam bentuk Fisik dan dari gereja lah kita dapat memulai penyatuan pemikiran kita terhadap LOGIKA dan ajaran Agama.
                Persekutuan Umat terbuka, Sebagai tempat saling bertukar pikiran antar sesama Umat. Tidak hanya dalam kepercayaan yang sama, kita dapat berbagi dengan kepercayaan lain  saling bertukar fikiran. Disini juga lah LOGIKA kita mulai dengan menyatukan ajaran Gereja kita dengan kepercayaan lain dengan LOGIKA yang benar benar. Jadi tidak selamanya LOGIKA itu digunakan sebagai tempat untuk menjauhkan diri dari ajaran Agama.
                Jadi sebagai umat yang terbuka terhadap gereja saya akan membuka pikiran dengan menggunakan LOGIKA dalam memikirkan penggunaan Agama sesungguhnya tetapi tidak melenceng dari ajaran Agama itu sendiri. Tetapi semakin banyak menggunakan nya bisa sangat beresiko untuk ajaran Agama dalam mempelajari kebenaran dunia. Karena semakin banyak pemikiran terbuka tanpa ajaran Gereja akan menjauhkan kita dari ajaran Gereja, bahkan sangat cepat .                                                                                                                                                                                                            kesimpulan_ semakin banyak mempergunakan ajaran Gereja dalam berLOGIKA sangat baik dalam perkembangan . dalam hal mempertimbangkan kebaik burukan suatu INOVASI LOGIKA baru…




Gereja yang Bermasyarakat dan Bernegara 
Berdasarkan Spiritualitas Hati Yesus yang Lembut dan Murah Hati

Gereja adalah persekutuan orang beriman yang hidup di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat secara universal. Gereja tidak hidup di dalam dunia yang menjadi miliknya sendiri, melainkan dalam dunia milik bersama. Dunia yang dimiliki oleh masyarakat yang majemuk dan pluralistik.
Namun demikian, Gereja juga merupakan suatu lembaga keagamaan yang mempunya tempat dan peranannya dalam masyarakat, sehingga sebagai keseluruhan, Gereja juga dituntut untuk memperlihatkan Spiritualitas Hati Yesus yang lembut dan murah hati kepada masyarakat secara luas. Hal itu dapat terjadi apabila Gereja secara publik tampil di tengah-tengah masyarakat. Dan penampilan itu terjadi dalam dua bentuk, yaitu sebagai perwujudan iman, dan sebagai pengungkapan iman.
Perwujudan iman, dalam bentuk kegiatan sosial Gereja, berarti partisipasi kelompok-kelompok atau organisasi Katolik dalam usaha pembangunan dan perkembangan masyarakat. Dalam usahanya tersebut, Gereja harus mampu mempraktikkan pelayanan Kristus yang lembut dan murah hati dan ditanamkan dalam kehidupan masyarakat yang umum. Meskipun seringkali hal tersebut dinilai sebagi usaha ”kristenisasi”, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang khas Kristiani, selain semangat pengabdiannya yang berdasarkan pada spritualitas Yesus yang lembut dan murah hati.
Sementara itu, hubungan antara Gereja dan negara didasarkan pada pengakuan  satu sama lain tentang kedudukan masing-masing. Gereja mengakui otonomi negara di bidang hidup bermasyarakat demi kesejahteraan rakyat seluruhnya. Namun demikian, Gereja menyadari panggilannya dan ingin mempunyai keleluasaan demi kesejahteraan semua dan masing-masing warga masyarakat, dan demi keselamatan manusia secara sempurna, melayani kebutuhan mereka, terutama yang bersifat rohani, tetapi juga yang bersifat jasmani  demi perkembangan mereka secara menyeluruh.
Hubungan Gereja dengan negara tidak melulu, bahkan tidak terutama berlangsung di tingkat institusional atau kelembagaan, tetapi juga dalam bekerjasama dengan semua golongan dan masyarakat dan pemerintah demi kesejahteraan seluruh bangsa.
Dalam rangka hubungan antara Gereja dan negara, Gereja berharap agar dalam usaha pembangunan, Gereja mampu melihat peranannya yang khas dalam usaha membangun mentalitas sehat, memberi motivasi yang tepat, kuat serta mengena, membina sikap dedikasi dan kesungguhan, menyumbangkan etika pembangunan serta memupuk sikap optimistis dan membangun sikap kritis konstruktif.
Selain itu, sesuai dengan perutusan Kristus, Gereja merasa solider dengan kaum miskin, lemah dan tersingkir. Bersama-sama dengan negara maupun secara pribadi, Gereja membantu mereka yang mau tanpa membedakan latar belakang mereka. Di sinilah kelihatan perwujudan spritualitas Yesus yang lembut dan murah hati.

Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo yang Bermasyarakat dan Bernegara Berdasarkan Spiritualitas Hati Yesus yang Lembut dan Murah Hati

           Sepuluh tahun perjalanan sebagai Paroki yang mandiri, Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo berusaha sebaik mungkin untuk menjalin relasi yang akrab dengan seluruh masyarakat dan pemerintah.
            Secara pribadi, masing-masing umat hidup di tengah-tengah masyarakat majemuk yang mempunyai tatanan moral dan sosial yang harus diikuti. Keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat tentu menjadi bagian hidup sehari-hari. Namun sudahkah kita membawa spiritualitas hidup kristiani dalam kebersamaan tersebut? Ataukah kita hanya mengikuti norma agar tidak terkena sanksi oleh masyarakat?
            Demikian juga dalam hubungannya dengan hukum dan sosial-politik, kita hendaknya juga mengikuti dan memahami dinamikanya di negara ini. Hal ini adalah baik karena bagaimanapun juga kita adalah bagian dari komunitas besar dari sebuah negara yang diatur oleh hukum, peraturan dan Undang-undang publik. Tentunya akan lebih baik jika kita mempunyai kontribusi langsung dalam penyusunannya.
            Sebagai sebuah kelompok, kepedulian dan kepekaan Gereja kita di Sukoharjo ini perlu untuk lebih ditingkatkan lagi. Banyaknya keprihatinan bersama karena adanya berbagai bencana alam maupun bencana kemanusiaan di negara ini hendaklah menjadi keprihatinan umat Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo secara menyeluruh.
Kepedulian terhadap mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir sebagaimana menjadi salah satu point dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang hendaknya juga semakin ditingkatkan dengan melakukan hal-hal yang nyata meskipun hanya berupa perbuatan yang sangat kecil dan sederhana.
Sesuai dengan visi Paroki yang bercita-cita membangun Gereja yang beriman mendalam, dewasa, mandiri, misioner dan memasyarakat yang berlandaskan spiritualitas Hati Kudus Yesus, maka Gereja perlu membangun kehidupan yang sungguh menyatu dan peka terhadap kondisi masyarakat.
Iman yang dewasa dan mendalam dapat dilihat dari meningkatnya rasa tanggung jawab untuk menghadirkan Gereja di tengah masyarakat. Gereja dalam hal ini bukan melulu sebuah lembaga yang organisatoris, melainkan Gereja yang hidup, yang berani mengatakan bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat adalah kegembiraan, dan harapan, duka dan kecemasan umat Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo.
Bilamana hal tersebut dapat dilaksanakan, maka spiritualitas Hati Kudus Yesus sungguh sudah hidup dalam diri umat Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo.
                                                                                                        Oleh : Dominikus Linggarno


Tanggapan:
Tindakan yang dilakukan itu sungguh mulia, penigkatan itu memang perlu dilakukan untuk kemajuan umat yang  berkeadaan kurang meyakinkan. Kehadiran Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo memang sangat dapat di beri nilai yang tinggi karena umat di sukoharjo memang memerlukan itu. Apalgi untuk umat yang memang benar benar kurang  meyakinkan, dan sangat mungkin agar di tolong dalam Iman. Iman yang di berikan tidak hanya dalam bentuk Materi kesadaran para Umat beriman dan para Imam juga di perlukan dalam bentuk kepedulian dan pengorbanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar