GEREJA SEBAGAI
PERSEKUTUAN TERBUKA
DALAM PERAN KITAB SUCI
Disusun :
Marqwano Rizal Xaverius Turnip
Kelas :
XI Mia 2
Pelajaran :
Agama
Keterlibatan diri sebagai umat Katolik
yang menghayati gereja
sebagai persekutuan terbuka dalam hidup
bermasyarakat
Menjadi umat Katolik berarti umat yang tunduk dan
takhluk tanpa isyarat kepada kepada PAUS/Pope/Vicar of Christ/Pontifex
Maximus/Raja segala Raja. Sebagai Umat yang Percaya Kepada ajaran Tuhan saya
turut ikut membagi pengetahuan, kepercayaan, keterlibatan diri saya sebagai
Umat Katolik yang Menghayati Gereja sebagai persekutuan Terbuka.
Dimulai dari Umat, Sebagai Umat umat di tuntut agar percaya kepada Tuhan
Melalui ajaran kekristenan Katolik. Umat di ibaratkan sebagai Domba dan
Pengembalanya adalah Tuhan sendiri . Yang menjaga kita memberi kita pengetahuan
dan ajaran ajaran mengenai kebenaran dunia. Umat tidak hanya di tuntut untuk
monoton terhadap Tuhan, karena tidak mungkin kita hanya begini saja sampai selama
lamanya. Kita tahu Revolusi, cara
berfikir maupun cara bertindak .sekarang kita sedang mengalami masa yang sangat
sulit. Dimana LOGIKA mengajarkan kita sedikit melenceng dengan ajaran Agama,
tetapi disetiap keyakinan dalam melakukan hal hal LOGIKA kita patut mencampur
adukan sedikit pemikiran Agama kedalam LOGIKA . Umat telah aktif di bidang
LOGIKA, tetapi Ajaran Agama yang menentang itu
mereka tinggalkan. Seperti artis, kita hanya melihat penampilannya dari
luar saja kita tidak melihat sisi lainnya. Dalam ajaran ini,
saya selalu berfikir dengan menggunakan LOGIKA semakin jauh pemikiran
saya mengenai suatu LOGIKA semakin jauh
pula ajaran agama itu dari saya.
Gereja, Sebagai tempat pergumulan, pengaduan diri
kepada Tuhan dan sebagai persekutuan umat terbuka. Gereja adalah persekutuan orang beriman yang hidup di
tengah-tengah kehidupan bermasyarakat secara universal. Gereja tidak hidup di
dalam dunia yang menjadi miliknya sendiri, melainkan dalam dunia milik bersama. Dimana, Gerja adalah tempat yang tepat untuk
mendekatkan diri dengan Tuhan dalam bentuk Fisik dan dari gereja lah kita dapat
memulai penyatuan pemikiran kita terhadap LOGIKA dan ajaran Agama.
Persekutuan Umat terbuka, Sebagai tempat saling
bertukar pikiran antar sesama Umat. Tidak hanya dalam kepercayaan yang sama,
kita dapat berbagi dengan kepercayaan lain
saling bertukar fikiran. Disini juga lah LOGIKA kita mulai dengan
menyatukan ajaran Gereja kita dengan kepercayaan lain dengan LOGIKA yang benar
benar. Jadi tidak selamanya LOGIKA itu digunakan sebagai tempat untuk
menjauhkan diri dari ajaran Agama.
Jadi sebagai umat yang terbuka terhadap gereja saya
akan membuka pikiran dengan menggunakan LOGIKA dalam memikirkan penggunaan
Agama sesungguhnya tetapi tidak melenceng dari ajaran Agama itu sendiri. Tetapi
semakin banyak menggunakan nya bisa sangat beresiko untuk ajaran Agama dalam
mempelajari kebenaran dunia. Karena semakin banyak pemikiran terbuka tanpa
ajaran Gereja akan menjauhkan kita dari ajaran Gereja, bahkan sangat cepat
. kesimpulan_
semakin banyak mempergunakan ajaran Gereja dalam berLOGIKA sangat baik dalam
perkembangan . dalam hal mempertimbangkan kebaik burukan suatu INOVASI LOGIKA
baru…
Gereja yang
Bermasyarakat dan Bernegara
Berdasarkan Spiritualitas Hati Yesus yang Lembut dan Murah Hati
Berdasarkan Spiritualitas Hati Yesus yang Lembut dan Murah Hati
Gereja adalah persekutuan orang beriman yang hidup di
tengah-tengah kehidupan bermasyarakat secara universal. Gereja tidak hidup di
dalam dunia yang menjadi miliknya sendiri, melainkan dalam dunia milik bersama.
Dunia yang dimiliki oleh masyarakat yang majemuk dan pluralistik.
Namun demikian, Gereja juga merupakan suatu lembaga
keagamaan yang mempunya tempat dan peranannya dalam masyarakat, sehingga
sebagai keseluruhan, Gereja juga dituntut untuk memperlihatkan Spiritualitas
Hati Yesus yang lembut dan murah hati kepada masyarakat secara luas. Hal itu
dapat terjadi apabila Gereja secara publik tampil di tengah-tengah masyarakat.
Dan penampilan itu terjadi dalam dua bentuk, yaitu sebagai perwujudan iman, dan
sebagai pengungkapan iman.
Perwujudan iman, dalam bentuk kegiatan sosial Gereja,
berarti partisipasi kelompok-kelompok atau organisasi Katolik dalam usaha
pembangunan dan perkembangan masyarakat. Dalam usahanya tersebut, Gereja harus
mampu mempraktikkan pelayanan Kristus yang lembut dan murah hati dan ditanamkan
dalam kehidupan masyarakat yang umum. Meskipun seringkali hal tersebut dinilai
sebagi usaha ”kristenisasi”, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang khas
Kristiani, selain semangat pengabdiannya yang berdasarkan pada spritualitas
Yesus yang lembut dan murah hati.
Sementara itu, hubungan antara Gereja dan negara
didasarkan pada pengakuan satu sama lain tentang kedudukan masing-masing.
Gereja mengakui otonomi negara di bidang hidup bermasyarakat demi kesejahteraan
rakyat seluruhnya. Namun demikian, Gereja menyadari panggilannya dan ingin
mempunyai keleluasaan demi kesejahteraan semua dan masing-masing warga
masyarakat, dan demi keselamatan manusia secara sempurna, melayani kebutuhan
mereka, terutama yang bersifat rohani, tetapi juga yang bersifat jasmani
demi perkembangan mereka secara menyeluruh.
Hubungan Gereja dengan negara tidak melulu, bahkan tidak
terutama berlangsung di tingkat institusional atau kelembagaan, tetapi juga
dalam bekerjasama dengan semua golongan dan masyarakat dan pemerintah demi
kesejahteraan seluruh bangsa.
Dalam rangka hubungan antara Gereja dan negara, Gereja
berharap agar dalam usaha pembangunan, Gereja mampu melihat peranannya yang
khas dalam usaha membangun mentalitas sehat, memberi motivasi yang tepat, kuat
serta mengena, membina sikap dedikasi dan kesungguhan, menyumbangkan etika
pembangunan serta memupuk sikap optimistis dan membangun sikap kritis
konstruktif.
Selain itu, sesuai dengan perutusan Kristus, Gereja
merasa solider dengan kaum miskin, lemah dan tersingkir. Bersama-sama dengan
negara maupun secara pribadi, Gereja membantu mereka yang mau tanpa membedakan
latar belakang mereka. Di sinilah kelihatan perwujudan spritualitas Yesus yang
lembut dan murah hati.
Paroki Hati Kudus Yesus
Sukoharjo yang Bermasyarakat dan Bernegara Berdasarkan Spiritualitas Hati Yesus
yang Lembut dan Murah Hati
Sepuluh tahun perjalanan sebagai Paroki yang mandiri,
Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo berusaha sebaik mungkin untuk menjalin relasi
yang akrab dengan seluruh masyarakat dan pemerintah.
Secara
pribadi, masing-masing umat hidup di tengah-tengah masyarakat majemuk yang
mempunyai tatanan moral dan sosial yang harus diikuti. Keterlibatan dalam
kehidupan bermasyarakat tentu menjadi bagian hidup sehari-hari. Namun sudahkah
kita membawa spiritualitas hidup kristiani dalam kebersamaan tersebut? Ataukah
kita hanya mengikuti norma agar tidak terkena sanksi oleh masyarakat?
Demikian
juga dalam hubungannya dengan hukum dan sosial-politik, kita hendaknya juga
mengikuti dan memahami dinamikanya di negara ini. Hal ini adalah baik karena
bagaimanapun juga kita adalah bagian dari komunitas besar dari sebuah negara
yang diatur oleh hukum, peraturan dan Undang-undang publik. Tentunya akan lebih
baik jika kita mempunyai kontribusi langsung dalam penyusunannya.
Sebagai
sebuah kelompok, kepedulian dan kepekaan Gereja kita di Sukoharjo ini perlu
untuk lebih ditingkatkan lagi. Banyaknya keprihatinan bersama karena adanya
berbagai bencana alam maupun bencana kemanusiaan di negara ini hendaklah
menjadi keprihatinan umat Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo secara menyeluruh.
Kepedulian terhadap mereka yang kecil, lemah, miskin dan
tersingkir sebagaimana menjadi salah satu point dalam Arah Dasar Keuskupan
Agung Semarang hendaknya juga semakin ditingkatkan dengan melakukan hal-hal
yang nyata meskipun hanya berupa perbuatan yang sangat kecil dan sederhana.
Sesuai dengan visi Paroki yang bercita-cita membangun
Gereja yang beriman mendalam, dewasa, mandiri, misioner dan memasyarakat yang
berlandaskan spiritualitas Hati Kudus Yesus, maka Gereja perlu membangun
kehidupan yang sungguh menyatu dan peka terhadap kondisi masyarakat.
Iman yang dewasa dan mendalam dapat dilihat dari
meningkatnya rasa tanggung jawab untuk menghadirkan Gereja di tengah
masyarakat. Gereja dalam hal ini bukan melulu sebuah lembaga yang
organisatoris, melainkan Gereja yang hidup, yang berani mengatakan bahwa
kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat adalah kegembiraan, dan
harapan, duka dan kecemasan umat Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo.
Bilamana hal tersebut dapat dilaksanakan, maka
spiritualitas Hati Kudus Yesus sungguh sudah hidup dalam diri umat Katolik
Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo.
Oleh : Dominikus
Linggarno
Tanggapan:
Tindakan yang dilakukan
itu sungguh mulia, penigkatan itu memang perlu dilakukan untuk kemajuan umat
yang berkeadaan kurang meyakinkan.
Kehadiran Paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo memang sangat dapat di beri nilai
yang tinggi karena umat di sukoharjo memang memerlukan itu. Apalgi untuk umat
yang memang benar benar kurang meyakinkan, dan sangat mungkin agar
di tolong dalam Iman. Iman yang di berikan tidak hanya dalam bentuk Materi kesadaran para Umat beriman dan para Imam juga di perlukan dalam bentuk
kepedulian dan pengorbanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar